
Oleh: Sukarmo, ST
Kira-kira pada tanggal 21 Juli 2010 yang lalu saya mengikuti seminar internasional yang dilakukan di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Tema seminar sebenarnya membicarakan tentang peran media dalam mengubah budaya social. Pembicara pada saat itu datang dari International Institute of Islamic Thought and civilization Malaysia. Dia adalah orang Amerika serikat yang menjadi guru besar di perguruan tinggi tersebut. Ia menceritakan tentang pengalamannya yang menemukan hidayah dari Allah lewat membaca kalam-kalam nya di dalam Al Quran kemudian ia bandingkan dengan kitab bible yang selama ini ia geluti dan ia jadikan sandaran dalam berpikir dan berpijak dan dalam menjerumuskan umat Islam yang kurang keimanannya dan kurang ilmunya tentang Islam untuk keluar dari din fitrah ini. Telah banyak umat Islam yang terjebak dengan perkataannya yang kemudian menjadi budak setia sang Yesus palsu alias menjadi umat Kristen. Namun yang namanya hidayah datang tanpa harus diundang. Ketika ia mencoba untuk memikirkan secara jernih dan obyektif kalam-kalam ilahi, ternyata ia menemukan suatu nuansa yang lain yang berbeda dibandingkan dengan isi bible yang membingungkan dan membuat pemikiran dangkal. Lantas kepenasaran tersebut ia terus ikuti dan ia baca dan baca lagi ayat-ayat Allah, ternyata semakin ia mendalami ayat-ayat Allah, semakin ia menyadari akan kekeliruannya selama ini. Ia menyadari bahwa langkahnya adalah salah. Langkahnya tidak sesuai dengan fitrah yang telah ditentukan oleh sang pencipta alam mayapada ini sehingga dengan berani ia putuskan untuk keluar dari keyakinannya terdahulu dengan mengambil sebuah resiko besar akan dikucilkan, diintimidasi oleh rekan-rekannya dan ia masuk kea lam kefitrahan, ke alam Islami yang mana din inilah yang ia anggap sebagai din yang paling cocok dan representative untuk mengatur berbagai aspek kehidupan umat manusia. Ia putuskan untuk berpisah dengan anak istrinya yang tidak mau ia jadikan sebagai saudara seiman dalam Islam yang agung, ia melangkah sendiri masuk ke gerbang syahadah, masuk ke gerbang yang akan mengangkat derajatnya menjadi derajat yang tinggi di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Ia c eritakan secara panjang lebar kisahnya kepada kami para audience dengan gaya bahasa Inggrisnya yang khas native speaker, gaya amerika walaupun saya yakin kebanyakan audience kurang memahami akan bahasa yang ia gunakan. Namun sang moderator sangat handal dalam membuat resume dari hasil pembicaraan sang native speaker tersebut.



Kegiatan Asatidz



